Senin, 16 Mei 2022

Tradisi Mappere

 Tradisi unik lainnya dari suku Bugis yakni ritual Ayunan Raksasa yang dikenal dengan istilah Mappere. Tradisi ini merupakan tradisi yang telah dilestarikan secara turun temurun dan dilaksanakan usai panen raya.


Ayunan Raksasa itu terbuat dari dua pohon randu setinggi 20 meter, sementara tali yang digunakan merupakan tali rotan kemudian dibalut dengan kulit kerbau.


Biasanya sebelum tradisi Mappere dilakukan terlebih dahulu pemuka adat akan menggelar ritual keselamatan bagi para gadis yang nantinya akan diayun.


Gadis yang terpilih merupakan kembang desa yang akan diayun oleh delapan orang pemuda yang akan menarik tali tersebut dari kiri ke kanan untuk meninggikan ayunan raksasa itu.


Dalam tradisi unik ini biasanya warga setempat akan menyembelih puluhan ekor kuda sebagai wujud syukur atas kelimpahan panen yang nantinya akan dihidangkan kepada tamu yang datang.


Tradisi Mappadendang panen padi

 


Mengenal Lebih Dekat Tradisi "Mappadendang" Tanah Bugis


 

Masyarakat Indonesia dari dahulu terkenal dengan tradisi dan adat istiadatnya yang beragam dan unik. Makanya tidak heran jika setiap daerah memiliki tradisi dan adat istiadat yang berbeda-beda pula. Contohnya saja tradisi yang ada di daerahku, sebuah Desa terpencil di pedalaman yang terletak di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Sebuah tradisi unik yang sudah ada sejak nenek moyang dulu, dan masih dipertahankan oleh masyarakat Disana hingga sekarang ini. Acara Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis) Sulawesi-Selatan. Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang maha kuasa. Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam rangka besar-besaran. Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya.

Acara mapadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang lain. Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya. Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah. Acara semacam ini tidak hanya sekedar menumbuk saja. Alur ceritanya bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk. Dengan nada dan tempo yang teratur, ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan. Sedangkan anak-anak mereka bermain disamping atau pun dibawah rumah.

Acara Mappadendang ini biasanya dilakukan pada lapangan terbuka dan dimulai setelah maghrib atau malam hari. Orang-orang dari kampung sebelah biasanya ikut hadir menyaksikan acara ini. Berkumpul bersama menambah rasa persaudaraan antarsesama. Yah, menjadi hiburan tersendiri yang menurut saya jauh lebih baik daripada hiburan acara pernikahan yang mempertontonkan penyanyi wanita dengan pakaian yang vulgar dan sama sekali tidak mencerminkan budaya ketimuran bangsa Indonesia. Tradisi mappadendang diatas, hanyalah salah satu dari sekian banyak tradisi yang ada di bumi tercinta ini, Indonesia. Dengan turut menyaksikan atau berpartisipasi didalamnya kita sudah turut menjaga kelestarian budaya yang kita miliki.

Tradisi massempe

 Massempe, adalah tradisi baku tending, atau adu kekuatan kaki, yang biasanya dilakukan oleh dua orang pria untuk menjatuhkan lawan, namun tidak diperbolehkan menggunakan tangan.


Tradisi tersebut, kerap di lakukan oleh warga di kabupaten bone, sulawesi selatan, setiap usai panen padi. Permainan rakyat tersebut, sudah berlangsung sejak ratusn tahun yang lalu, yang dimaksudkan sebagai rasa syukur atas panen yang berlimpah, dan sebagai ajang silaturahmi antarwarga kampung.

Ratusan warga Desa Mattoanging, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memadati lapangan terbuka, tempat digelarnya pesta rakyat, tradisi Masempe.

Tradisi Massempe, atau lebih kenal dengan adu kaki dan saling tending, merupakan pertarungan bebas yang dilakukan oleh dua orang pria, baik remaja maupun dewasa, dengan menggunakan kekuatan kaki, dengan saling menendang, untuk menjatuhkan lawan.

Sebelum pertarungan dimulai, para jawara kampung mengelilingi arena permainan, sambil bertepuk tangan, sebagai pertanda, bahwa para jawara tersebut mencari lawan tanding.

Jika tepukan tersebut dibalas, maka dua jawara tersebut, siap untuk bertarung.

Tradisi Massempe tersebut, mirip dengan olahraga pencak silat, dan taekwondo, namun, dalam pertarungan, para peserta tidak diperkenankan menggunakan tangan, melainkan menyerang dengan menggunakan kaki.

Tradisi Massempe ini, dipimpin oleh dua orang wasit, sehingga jika salah seorang peserta, ada yang berbuat curang, maka kedua wasit cepat bertindak, dengan melerai kedua peserta, dengan cara mendekap peserta, kemudian menjauhkan dari lawannya.

Usai bertarung, para peserta langsung berjabat tangan, dengan dipandu oleh kedua wasit, sehingga ketika acara tersebut sudah bubar, maka tidak ada rasa dendam di antara para peserta.

Salah seorang warga, yang ikut dalam permainan tersebut, Rusmin, mengatakan, dia tidak melakukan latihan khusus untuk mengikuti ajang tersebut, tapi hanya karena sudah terbiasa.

Dalam setiap kali ada permainan rakyat tersebut, Rusmin kerap mengikuti, dan mampu sampai tiga kali ronde.

Acara yang digelar setiap tahun tersebut, merupakan tradisi warga setempat, yang sudah turun temurun dilakukan, sejak ratusan tahun silam, setiap kali usai panen.

Tradisi ini dilakukan dengan maksud, sebagai rasa syukur pada sang pencipta, atas hasil panen yang berlimpah, dan sebagai ajang silaturahmi antar warga kampung.

Tradisi pesta rakyat sirawu sulo

 Sirawu' Sulo merupakan suatu tradisi rakyat atau pesta rakyat yang telah dilaksanakan sejak dahulu di Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan bersamaan dengan terbentuknya Desa Pongka itu sendiri. Sirawu' sulo berasal dari bahasa bugis yang terdiri atas dua kata dimana sirawu berarti saling melempar dan sulo berarti obor. Jadi sirawu sulo adalah saling melempar obor yang terbuat dari daun kelapa. Tradisi ini juga dikenal dengan nama sirempek api atau perang api. Pesta rakyat ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali.[1] Sirawu' sulo diadakan setelah adanya penetapan waktu pelaksanaan yang sudah disetujui oleh masyarakat Desa Pongka berdasarkan petunjuk dari Sanro ( Ketua Adat ). Hanya laki-laki yang diperbolehkan untuk mengikuti tradisi ini dimana jumlah dan usia peserta tidak dibatasi. Tradisi ini dilaksanakan selama 3 malam berturut turut selama kurang lebih 2 jam atau sampai apinya padam. Selain sebagai pelaksanaan tradisi, pesta rakyat sirawu' sulo juga sebagai ajang silaturahmi dengan keluarga bagi warga Desa Pongka yang pulang dari perantauan.


Rabu, 11 Mei 2022

Pesta Rakyat Cemme Passili

 Tradisi pesta rakyat cemme passili di suatu tempat yaitu terletak di desa ulo kecamatan Tellu siattinge kab.Bone,Penelitian ini menemukan bahwa sejarah awal tradisi cemme passili’ disebabkan musim kemarau yang panjang sehingga membuat keadaan desa pada waktu itu gagal total dalam bidang pertanian. Kejadian tersebut berlangsung sekitar kurang lebih satu tahun, kekeringan dimana-mana semua tumbuhan kering dan mati, sumber air tidak ada. Sandro wanua di desa pada waktu itu bermimpi bertemu dengan seseorang dan menyuruh masyarakat desa untuk melakukan sebuah ritual mandimandi di sebuah sumber air diatas gunung. Sebelum dilakukan proses tradisi tersebut masyarakat mengumpulkan beppa pitu’e, ketupat berbentuk kerucut untuk dibawa ke ketempat yang disuruhkan oleh sandro wanua. Banyaknya masyarakat dari luar yang datang menyaksikan tradisi ini sehingga keakraban, silaturahmi antara masyarakat terjalin, jadi tak heran masyarakat Ulo-ulo rela memotong kuda untuk menjamu para tamu yang datang dengan memotong kuda. Tradisi ini juga membuat masyarakat di sana tambah solid sehingga tradisi ini masih tetap eksis sampai sekarang. Tradisi cemme passili’ bisa dijadikan warisan budaya bagi daerah Kabupaten Bone terkhususnya bagi masyarakat di Desa Ulo Dusun Ulo-ulo. Tradisi cemme passili’ juga bisa dijadikan obyek wisata yang bisa menarik banyak pengunjung dari luar. Sehingga bisa menghasilkan sebuah keuntangan bagi masyarakat Ulo.


Tradisi Mappere

  Tradisi unik lainnya dari suku Bugis yakni ritual Ayunan Raksasa yang dikenal dengan istilah Mappere. Tradisi ini merupakan tradisi yang t...